Waspadai Pemakaian Pemutih Gigi

Keinginan untuk terlihat cantik dan menarik adalah keinginan setiap orang secara keseluruhan, khususnya kaum perempuan. Gigi dan mulut merupakan bagian integral dari wajah yang tidak luput dalam upaya untuk lebih dipercantik.

Langkah pertama untuk mempercantik gigi yang dilakukan oleh kebanyakan orang adalah dengan membuat giginya terlihat putih. Warna gigi merupakan variabel penting untuk senyum yang menarik dan orang?ingin kelihatan lebih putih giginya supaya mereka terlihat lebih muda dan lebih cantik dalam rangka meningkatkan rasa percaya diri.

Pemutihan gigi meliputi dua hal. Yang pertama adalah dengan menghilangkan warna ekstrinsik, yakni warna yang menempel di atas permukaan gigi. Biasanya terjadi karena pelekatan warna makanan, minuman, ataupun rokok yang meninggalkan tar berwarna kecoklatan pada gigi yang terjadi secara perlahan dan dalam jangka waktu yang panjang. Sedangkan yang kedua adalah menghilangkan warna intrinsik, yaitu gigi yang mengalami diskolorasi atau perubahan warna yang terjadi semasa pembentukan struktur gigi. Contohnya adalah warna gigi yang keabu-abuan pada gigi yang terkena antibiotik tetrasiklin saat anak berusia di bawah 8 tahun atau semasa dalam kandungan ibunya.

Pemutihan ekstrinsik dapat dilakukan secara mekanik ataupun dengan bahan kimia, yang secara khusus dilakukan oleh dokter gigi. Sedangkan yang dapat dikerjakan oleh diri sendiri pada umumnya adalah dengan menyikat gigi secara teratur dengan pasta gigi yang mengandung bahan abrasif sehingga pewarnaan gigi akibat makanan, minuman atau rokok dapat dikurangi penumpukannya.

Pemutihan intrinsik sekarang menjadi populer untuk dilakukan karena memang dengan gigi yang lebih putih, seseorang relatif terlihat lebih muda dan lebih menarik senyumnya. Tindakan tersebut dapat dilakukan sendiri di rumah atau dikerjakan oleh seorang dokter gigi. Hasil pemutihan gigi dapat dilihat secara obyektif dengan pengukuran shade guide dan alat colorimeter yang digunakan untuk menilai perubahan warna. Secara klinis, perubahan warna dapat dideteksi oleh mata manusia apabila perbedaannya mencapai satu point atau lebih.

Pemutihan yang dilakukan oleh dokter gigi diistilahkan sebagai in office bleaching. Sedangkan yang dikerjakan sendiri di rumah disebut sebagai at home bleaching. Salah satu bahan yang dipakai untuk memutihkan gigi adalah Hidrogen Peroksida (H2O2) dan Carbamid Peroksida.

Hidrogen Peroksida 10% sama dengan Carbamid Peroksida 2%. Konsentrasi?H2O2 untuk in office bleaching lebih besar karena dilakukan oleh?dokter gigi yang profesional, yakni berkisar antara 30-50% dengan waktu kontak 1-2 jam. Konsentrasi untuk at home bleaching adalah 3-5% dengan waktu kontak yang lebih lama, yaitu 2-8 jam per hari selama lebih kurang 5 hari (40 jam).

Hidrogen Peroksida maupun Carbamid Peroksida sebenarnya merupakan bahan yang reaktif. Selayaknya suatu bahan kimia yang dipakai oleh manusia, bahan tersebut harus lolos uji, yakni uji keamanan (toksisitas), uji penggunaan (usage test), dan uji klinik.

Uji keamanan bertujuan untuk mengetahui tingkat keamanan (safety level) suatu bahan dan dilakukan pada hewan serta in vitro (di laboratorium). Uji tersebut dapat dianggap sebagai skrining toksisitas suatu bahan. Toksisitas adalah efek suatu bahan pada sistem kehidupan. Uji keamanan suatu bahan kimia secara eksperimental dievaluasi pada hewan, termasuk di dalamnya adalah efek karsinogenesis, yaitu kemampuan suatu zat untuk memicu timbulnya kanker.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mukosa rongga mulut apabila berkontak dengan Carbamid Peroksida 2% dapat menimbulkan reaksi yang berbahaya karena senyawanya yang tidak stabil. Radikal bebas oksigen tersebut merupakan antigen yang akan menginduksi sistem imunitas. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pemakaian Carbamid Peroksida 2% selama 60 detik sehari selama 3 hari saja sudah dapat secara nyata menyebabkan peradangan mukosa mulut. Padahal, pemakaian at home bleaching itu membutuhkan waktu kontak lebih lama, yakni dalam hitungan jam, sehingga risikonya pun akan lebih besar.

Dokter gigi sebagai profesional dapat meminimalisasi risiko yang terjadi dalam proses pemutihan gigi dengan melakukan perlindungan gusi dengan bahan khusus dan penanganan yang ekstra hati-hati serta menetralisasi rasa ngilu pada gigi, yang merupakan salah satu efek samping bahan pemutih gigi.

Kadar?H2O2 maksimal yang aman untuk digunakan oleh pasien sendiri di rumah adalah?H2O2 10%. Kadar tersebut telah disetujui oleh ADA (American Dental Association, yaitu suatu badan yang melakukan pengawasan terhadap bahan-bahan kedokteran gigi yang beredar di Amerika) sebagai batas penggunaan yang “aman” dan “efektif”.

Sesuai dengan fakta bahwa bahan pemutih gigi dapat bersifat reaktif dan berbahaya, maka beredarnya bahan tersebut di pasaran harus dicermati oleh masyarakat luas. Bahan aktif?H2O2 yang akan dibeli harus dipastikan kadarnya di bawah 10% karena akan menimbulkan dampak yang merugikan, misalnya peradangan gusi dan mukosa mulut. Penggunaan H2O2 dengan konsentrasi yang rendah ternyata dapat memutihkan gigi dan mencapai hasil yang sama seperti penggunaan?H2O2 dengan konsentrasi tinggi, namun prosesnya lebih lama.

Jadi, penggunaan pemutih gigi sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi profesional yang mengerti efek samping bahan yang dimaksud dan melakukan tindakan pencegahan terhadap efek samping yang dapat timbul maupun mengobati sensitivitas yang terjadi setelah pemakaian bahan pemutih gigi. Namun apabila kita ingin membeli sendiri, pastikan kadar bahan aktif?pemutihnya berada dalam batas yang aman, yakni di bawah 10%.

Iklan