SLOGAN “Senyum cemerlang diawali gigi putih dan bersih” jadi andalan produk pembersih gigi untuk memikat konsumennya. Gigi putih bak mutiara seakan tertanam dalam benak banyak orang sebagai hal yang indah dan seharusnya. Tak mengherankan di zaman modern ini produk pemutih gigi laris di pasaran. Namun, produk pemutih gigi ternyata tidak dapat sembarangan digunakan. Alih-alih mendapatkan gigi putih cemerlang, yang muncul malah gigi kropos dan ngilu akibat menggunakan pemutih gigi.

“Pemutihan gigi atau bleaching yang terbaik adalah tetap di bawah pengawasan dokter gigi. Karena, jika bahan konsentrat yang ada di dalam pemutih gigi digunakan secara berlebihan hanya akan menyebabkan timbulnya sensitivitas gigi,” ujar dokter gigi dari Kharinta Dental Clinic, Lita Dharmawan. Menurutnya, obat pemutih gigi yang melimpah di pasaran saat ini memang harus diwaspadai. Sebab, kebanyakan dari produk tersebut tidak memberikan hasil maksimal. Pada akhirnya hanya akan merugikan konsumen.

Penelitian efektivitas pemutih gigi pernah dilakukan oleh majalah kesehatan Inggris, Health Which. Dari penelitian tersebut disimpulkan hanya sebagian kecil produk pemutih gigi yang benar-benar efektif. Tiga produk pemutih gigi sama sekali tidak membantu memutihkan gigi. Serta delapan produk lainnya, hanya diberi rating 10 persen oleh para dokter gigi independen yang melakukan penelitian ini. Rating 10 persen berarti kemampuan delapan produk tersebut untuk memutihkan gigi hanya 10 persen saja.

Penelitian ini juga mengungkap adanya empat produk yang memiliki rating 50 persen. Tidak disebutkan satu pun produk pemutih gigi yang memiliki rating di atas 50 persen. Oleh karena itu, sekali lagi Lita menegaskan pentingnya berkonsultasi pada dokter gigi jika seseorang ingin memiliki gigi putih. “Kalaupun dia ingin menggunakan pemutih gigi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam proses memutihkan gigi, seorang pasien harus melewati dua tahap perawatan. Pertama, dengan cara menghilangkan warna ekstrinsik, yaitu warna yang menempel di atas permukaan gigi. Dalam hal ini, warna ekstrinsik biasa diakibatkan oleh makanan dan minuman berwarna seperti kopi dan teh serta rokok. Setelah dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama, makanan atau tar dari rokok akan meninggalkan noda di atas gigi.

Kedua, upaya menghilangkan warna intrinsik, yaitu warna gigi yang timbul akibat perubahan warna atau diskolorasi sewaktu pembentukan gigi. Misalnya, terlalu banyak mengonsumsi antibiotik semasa kecil yang menyebabkan gigi kusam dan menguning. Dalam memutihkan gigi, menurut Lita, dokter gigi akan menggunakan bahan kimia aktif seperti hidrogen peroksida dan karbamid peroksida. “Dua zat ini jika digunakan secara berlebihan dapat menimbulkan sensitivitas gigi yang tinggi,” tuturnya.

Penggunaan produk tersebut memang sangat membutuhkan kecermatan dan kehati-hatian. Karena, selain menimbulkan sensitivitas pada gigi, zat kimia yang terkandung di dalamnya dapat pula melukai gusi dan bagian mulut. Agar hal ini tidak terjadi, para dokter gigi selama proses pemutihan berlangsung akan melindungi gusi dengan gel pelindung, dan jaringan halus pada mulut dengan karet pelapis.

Menurut Lita, proses memutihkan gigi idealnya dilakukan di klinik secara langsung (direct) dan dilanjutkan dengan perawatan di rumah atau tak langsung (indirect). Proses pemutihan gigi di klinik akan dimulai dengan pemeriksaan apakah ada bagian gigi yang mengalami retak atau berlubang. Jika ada maka harus segera ditangani terlebih dahulu. Jika dibiarkan akan mengakibatkan rasa linu yang luar bisa hebat.

Lalu, setelah dokter memastikan gigi pasien baik, maka akan diberikan bahan kimia aktif karbamid peroksida dengan konsentrat tinggi selama satu jam. Setelah itu gigi putih, setidaknya satu tingkat lebih putih dari sebelumnya, muncul. “Namun, segala sesuatu yang instan kan memang cepat mengalami penurunan. Untuk menjaga gigi tetap putih diperlukan perawatan di rumah,” tuturnya.

Usai menjalani pemutihan gigi di klinik, pasien hendaknya juga tidak terkejut jika giginya tiba-tiba merasa linu. Hal ini meruapakan efek yang wajar sebagai akibat dari bahan kimia yang digunakan. “Rasa linu itu tidak akan lama, mungkin hanya 24 jam saja, setelah itu akan normal kembali,” katanya. Gigi putih ini dapat bertahan, menurut Lita, jika terus dijaga setidaknya gigi putih cemerlang ini dapat bertahan hingga tiga tahun.

Untuk menjaga gigi awet putih, perawatan di rumah menurut Lita juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus merujuk pada ketentuan yang diberikan dokter. Seperti menghentikan penggunaan bahan aktif pemutih gigi jika sudah tiga hari, untuk kemudian digunakan kembali sebulan kemudian. Hal ini penting untuk dilakukan karena memutihkan gigi merupakan proses penetrasi bahan kimia ke dalam pori-pori gigi, yang pada akhirnya menyebabkan penipisan email sehingga gigi menjadi sensitif.

Untuk menjaga gigi tetap putih pasien diharapkan juga menghindari makanan dan minuman berwarna serta merokok. Memutihkan gigi tidak harus melalui dokter dengan biaya jutaan rupiah. Menurut Lita, seseorang dapat saja menggunakan pasta gigi yang mengandung pemutih. Pasta gigi berpemutih cukup aman dikonsumsi karena memiliki kadar konsentrat pemutih rendah, hanya dua persen. “Sehingga, aman dipakai setiap hari. Kuncinya hanya sabar karena pasta gigi ini hanya bersifat menjaga gigi supaya putih saja,” katanya.

Iklan