Gigi sehat dan indah biasanya diidentikkan dengan gigi putih yang bersih dan cemerlang. Sayangnya, karena makanan, minuman dan perawatan yang salah, gigi bak mutiara itu sulit dimiliki.

Tips Gigi Cemerlang

O

Jaga kebersihan gigi

O

Terapkan pola makan sehat

O

Konsumsi makanan kaya serat sejak dini

O

Hindari bahan yang bisa mempengaruhi warna gigi seperti teh, kopi dan rokok

O

Hati-hati memakai antibiotika terutama pada anak

O

Rawat gigi secara teratur

 

Gigi putih dan senyum cemerlang merupakan idaman setiap orang. Makanya banyak yang berusaha memutihkan tampilan giginya, yakni dengan metode teeth whitening atau bleaching.

Pemutihan gigi sekarang menjadi populer dilakukan karena dengan gigi yang putih, seseorang relatif terlihat lebih muda dan lebih menarik senyumnya sehingga menambah rasa percaya diri.

Menurut drg Dewi Purwanti, perubahan warna gigi seperti abu-abu, kuning atau coklat kehitaman dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dari luar tubuh (ekstrinsik) maupun dari dalam tubuh (intrinsik).

Faktor ekstrinsik biasanya terjadi karena pelekatan warna makanan, minuman ataupun rokok yang meninggalkan tar berwarna kecoklatan pada gigi yang terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang panjang.

Sedangkan faktor intrinsik yaitu gigi yang mengalami diskolorasi/perubahan warna yang terjadi semasa pembentukan struktur gigi. Contohnya adalah warna gigi yang keabu-abuan karena terkena antibiotik tetrasiklin yang dikonsumsi semasa pertumbuhan gigi pada anak-anak di bawah 8 tahun atau semasa dalam kandungan ibunya.

Gigi juga bisa berubah warna karena kerusakan syaraf gigi akibat proses degeneratif, penyakit kelainan darah, terkena benturan keras /trauma, perawatan saluran akar gigi maupun karena pengaruh bahan penambal gigi.

Dokter gigi yang buka praktek di Jl Cempaka Banjarmasin ini mengatakan, gigi seperti halnya pakaian. Gigi juga bisa diputihkan, hanya saja bahan pemutih gigi berbeda dengan bahan untuk memutihkan benda lain. Sebelum melakukan pemutihan gigi, ujarnya, perlu dicari dulu penyebab gigi berubah warna.

Salah satu bahan yang dipakai untuk memutihkan gigi adalah hidrogen peroksida (H2O2) dan carbamide peroksida. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang berbentuk seperti pen yang dioleskan pada gigi, pasta gigi untuk sikat gigi, ada pula yang ditempelkan pada gigi dengan alat khusus hingga semalaman.

Pemutihan gigi ada yang bisa dilakukan sendiri di rumah dan ada pula yang perlu bantuan dokter gigi. Pemutih gigi yang pemakaiannya memerlukan bantuan dokter gigi antara lain pemutihan dengan obat, pelapisan dengan bahan khusus dan pemasangan mahkota porselen.

Konsentrasi bahan yang dipakai untuk pemutih gigi dengan bantuan dokter biasanya lebih besar, berkisar antara 30-38 persen dengan waktu kontak sekitar satu jam per kali kunjungan dan hasilnya bisa langsung terlihat.

Pada metode ini, bahan pemutih dioleskan pada permukaan gigi kemudian gigi disinari dengan lampu halogen dengan daya tertentu.

Sedangkan untuk pemutihan gigi yang dilakukan sendiri di rumah bahannya antara 3-10 persen dan memerlukan waktu yang lebih lama sampai terlihat hasilnya.

Hasil pemutihan dapat dilihat secara objektif dengan pengukuran shade guide dan alat colorimeter yang digunakan untuk menilai perubahan warna gigi. Secara klinis, perubahan warna dapat dideteksi oleh mata manusia.

Dewi menyebutkan, keberhasilan pemutihan gigi sangat tergantung pada kondisi gigi. Yang perlu diingat, kondisi gigi tiap orang berbeda, ada orang yang warna giginya tetap cemerlang hingga beberapa tahun sesudah tindakan pemutihan dilakukan. Ada juga yang giginya kusam lagi dalam waktu singkat.

Sesudah menjalani proses pemutihan gigi, lanjutnya, kadang ada rasa aneh pada gigi tapi rasa ini akan segera hilang pada 24 jam pertama.

Supaya warna gigi tetap cemerlang untuk jangka waktu lama, Dewi menganjurkan agar sebaiknya menghindari kebiasaan minum teh, kopi, minuman berkarbonasi (cola), makanan yang mengandung banyak zat pewarna seperti saos tomat serta menghentikan kebiasaan merokok.

Warna putih yang dihasilkan dari proses pemutihan bisa bertahan lama. Namun demikian, pasien tetap dianjurkan memeriksakan giginya ke dokter gigi setiap enam bulan sekali.

Penulis : drg. Dewi Purwanti

Source  : Banjarmasin Post

Iklan